Happy DancE


“Pindah rumah?!” pekik Rei tak percaya.
“iya, ayahmu dipindah tugaskan ke Jakarta. Kamu mau ikutkan?” Tanya ibu pelan-pelan.
“ta, tapi bu… aku baru saja mulai dekat dengan teman-teman baruku, tapi kenapa sekarang udah harus pindah lagi…”
“mau bagaimana lagi, ini perintah bos ayahmu. Besok kita akan segera berangkat, tapi sebelum berangkat kamu mau bertemu teman-temanmu dulu untuk salam perpisahan?”
“tidak usah. Aku paling benci perpisahan…” kata Rei lesu.
“tapi disekolahmu yang dulu, kamu justru ingin bertemu teman-temanmu sebelum kita pindah…”
“tapi ini sudah perpisahanku dengan teman-teman baruku ya kesekian puluh kali! Ku udah gak bisa menghitung berapa teman yang aku punya. Ayah terlalu sering dipindah tugaskan, gak bisa menetap lebih dari 2 bulan! Aku gak suka!” Rei membanting pintu kamarnya.
“kenapa selalu begini?! Padahal teman sekelasku baru saja mulai menyukaiku… aku juga sudah mulai menyukai kota ini… Aaargh…” Rei mengacak-acak rambutnya.
“apa yang harus kulakukan kalau bertemu mereka… haaah…” desah Rei.

Ia teringat kembali dengan teman-teman lamanya, ia tidak tahu sudah ada berapa banyak teman yang ia miliki dan sekolah yang ia masuki setiap kali pindah. Rei membuka laci meja belajarnya, didalamnya berisi banyak sekali barang-barang pemberian dari teman-teman lamanya saat ia pindah sekolah. Diantara tumpukan barang-barang itu terdapat kotak yang lumayan besar, kotak itu selalu dirawat dengan baik oleh Rei. Karena isinya adalah foto-foto dia bersama teman-teman lamanya. Rei menatanya sangat rapi, ia juga memisahkan foto-foto itu dalam beberapa kelompok. Setiap kelompoknya adalah foto saat dia berada di satu sekolah yang ia masuki. Ia juga tidak lupa menulis nama teman-temannya dan kegiatan apa yang sedang ia dan teman-temannya lakukan di setiap fotonya. Untuk ukuran anak cowok, dia termasuk bersih. Walaupun kamarnya masih bisa dibilang berantakan.
Esoknya, beberapa orang yang telah dibayar ayah Rei datang untuk mengangkut barang-barang yang ada dirumahnya. Sedangkan Rei, akhirnya dia mau juga pergi ke sekolahnya setelah dipaksa beberapa kali oleh kedua orang tua Rei.
Sesampainya disekolah, seluruh teman-teman baru Rei langsung berhamburan berlari keluar untuk segera menemui Rei. Sepertinya teman-teman Rei sudah mendengar soal rencana kepindahannya sebelum dia sampai di sekolah.
“Reiii…aku denger kamu mau pindah…! Ini, aku bikin cookies. Tadi aku sempet khawatir kalau kamu tidak akan ke sekolah dulu buat perpisahan, aku kan jadi gak bisa ngasih cookies yang udah susah payah aku bikin semalam…” kata wada, salah satu teman cewek sekelas Rei yang diam-diam menyukai Rei.
“Yah… nanti bakalan sepiii… soalnya gak ada orang yang bisa aku ajak berantem lagi.” Kata Gerald, teman sekelas Rei yang keturunan Inggris. Anaknya sombong dan paling suka ngajakin Rei berantem.
“aku juga bakal kesepian, soalnya gak ada lagi rival yang bakalan ngalahin aku dipertandingan sepakbola minggu depan.” Kata Ryo, rival Rei di klub sepakbola.
“re, Rei… aku beli buku yang sudah lama ingin kamu baca. Kumohon terimalah!” kata mie, teman sekelas Rei yang kutu buku dan pemalu. Rei pernah membelanya saat ia dikerjai oleh Gerald.
Dan masih banyak lagi teman-temannya yang memberinya banyak hadiah. Rei hanya tersenyum senang karena bisa berpisah dengan mereka tanpa harus ada pertengkaran, karena Rei pernah berpisah dengan teman-temannya saat mereka sedang bertengkar.
“makasih ya teman-teman. Kalian jangan lupa buat sering-sering telpon aku!” teriak Rei dari dalam mobil. Setelah perpisahan, dia akan menemui pertemuan baru lagi. Dia tidak pernah tahu seperti apa sekolah yang akan ia masuki dan seperti apa watak teman-temannya nanti. Tapi, Rei adalah orang yang selalu menatap lurus ke depan. Dia tidak akan pernah berbalik lari saat menghadapi suatu masalah, itulah ciri khas Rei yang tumbuh saat ia beberapa kali pindah sekolah dan berhadapan dengan berbagai macam karakter teman-temannya dan lingkungan yang berbeda-beda.

Beberapa jam setelah itu, akhirnya mereka sampai juga di Jakarta. Sekali lihat Rei bisa langsung mengerti kalau jakarta padat dengan penduduk dan penuh dengan polusi. Entah seperti apa teman-teman yang akan ia jumpai nanti.
Tiba-tiba saja ayah menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung yang besar.
“Rei… dengar, ayah akan tinggal di gedung ini untuk mengurus semua kerjaan yang menjadi penghambat perusahaan ayah. Sedangkan kamu dan ibumu akan tinggal lumayan jauh dari tempat ayah kerja, tapi ayah tetap akan datang mengunjungi kalian. Jadi, jaga baik-baik ibumu ya… kamu kan jagoan ayah.” Kata ayah sambil memukul bahu Rei.
“tenang saja, aku kan bukan anak kecil lagi.” Rei membalas memukul bahu ayahnya. Rei tahu, ayahnya adalah pembisnis yang hebat. Ayah sangat dipercaya di perusahaannya, bahkan ayah juga disukai beberapa perusahaan besar karena telaten dan selalu menepati janjinya. Tapi yang Rei sukai dari ayahnya adalah jago dalam hal olahraga, pantesan stamina ayah Rei sangat terjamin dalam mengurus semua pekerjaannya.

Akhirnya Rei sampai di tempat yang dimaksud ayahnya. Memang disini lebih tenang dan tidak banyak polusi, apalagi banyak pepohonan yang tumbuh di sekitar rumah.
“oke, ayah harus ke kantor dulu. Nanti ayah akan pulang lagi kesini. Jadi rapikan dengan benar ya.” Pesan ayah sambil berlalu pergi.
“ibu, aku yang pilih sendiri kamarku dimana ya.” Pinta Rei.
“oke, berarti kamu embereskan barang-barangmu sendiri ya.” Ibu setuju.
Rei langsung keliling rumah. Ternyata rumahnya lebih besar dan lebih luas dari bayangan Rei, ia jadi bingung untuk mencari kamar yang tepat. Setelah keliling lumayan lama, sampe juga dilantai 2. saat itulah Rei menemukan kamar yang pas, tempatnya di paling pojok. Luas kamarnya pas buat dia latihan bola dan basket, jendelanya ada di ketiga sisi kamarnya. Di jendela yang tengah terdapat pohon dan dekat dengan tembok rumah yang jadi pembatas dalam rumah dan luar, sangat pas buat Rei kabur saat ia ingin pergi latihan.
“ok, saatnya beres-beres… kamar baruku.” Kata Rei pada kamar barunya.
“nah, sebelum beres-beres… music start!” Rei menyalakan tape yang sering ia bawa untuk latihan… Dance. Tidak ada yang tahu seorang pun, bahkan teman-teman lamanya bahwa Rei suka Dance Hip Hop. Bukannya gak ada yang tahu sih… tapi Cuma satu orang yang mengetahui Rei bisa Dance Hip Hop, yaitu sahabat pertamanya saat ia bersekolah di jepang, Hoshi. Dan Hoshi-lah yang mengajarinya Dance Hip Hop. Semenjak ia pindah sekolah dari jepang, Rei selalu berlatih sendiri. Dengan kelincahan Rei, Rei bisa dengan mudah menguasainya.
“Rei…! Musicnya dikecilkan sedikit…!!” teriak ibu.
“ok, mom!” Rei langsung salto ke belakang beberapa kali dan melompati kasur dan lemari pakaiannya dengan lincah dan lihai. Pendaratan pun sukses dilakukannya dengan keren, ia pun langsung mengecilkan suara tape kesayangannya.
“Kereeen…!! Hebat banget! Kamu belajar darimana?!” puji seseorang tiba-tiba. Rei langsung berbalik, dan ia melihat seorang perempuan duduk di jendela kamarnya.
Perempuan itu memakai jaket hitam dan bagian lengannya digulung hingga tumit. Ia juga memakai celana selutut yang sepertinya celana untuk cowok, memakai sepatu cats putih dan kaos kaki hitam. Rambut panjangnya uga diikat kuda,. Melihat penampilannya, Rei bisa menebak kalo cewek itu tomboy.
“heh, ditanya kok bengong.” Katanya sambil menjentikkan jarinya tepat di depan muka Rei. rei pun langsung tersadar.
“ah, kamu ngapain masuk kamar orang seenaknya!” bentak Rei.
“yeee… aku juga gak niat masuk kamar orang seenaknya. Tapi suara music kamu gede banget, sampe kedengaran dikamarku. Trus aku manjat pohon deket kamarku dan nyebrang kesini lewat pohon deket kamarmu ini…buat marahin kamu! Tapi gak jadi pas aku liat aksimu tadi, keren banget… ajarin aku dong…” pinta gadis berkuncir kuda itu.
“nggak! Aku gak mau ngajarin cewek monyet kaya kamu. Oh ya, emang rumahmu yang mana? Kok aku gak liat rumah kamu.”
“ya kagak keliatan lah… orang kehalangan pohon gini. keliatan kalo dari sini ni.” Gadis berkuncir itu langsung manjat pohon dan lompat ke tembok pembatas.
“ayo cepet kesini…” ajak gadis itu lagi.
“iya.” akhirnya Rei mau juga ngikutin gadis berkuncir itu. Rei melompat ke tembok pembatas dan melihat balik tembok itu.
“itu rumahmu? Kecil banget.” Tanya Rei begitu melihat bangunan yang lumayan kecil berwarna biru
“jahat ih, itu bukan rumahku tahu tapi gudang rumah ku. Liatnya jangan ke bawah dong, tapi… ke atas!” Rei mengangkat kepalanya dan dia melihat rumah bagaikan gedung yang lumayan besar.
“gede bangeeeet….” Kata Rei kagum.
“hohoho… itu kamarku, deket sama kamarmukan? lagian kakekku emang kaya banget. Sayang ayahku bertolak belakang sekali dengan kakekku.”
“kakekmu? Kamu tinggal sama kakekmu?”
“iya, orangtuaku membuangku saat aku berumur 2 tahun. Dan yang mau mengambilku hanya kakekku seorang, sedangkan kerabatku yang lain sangat membenciku.” Muka gadis itu berubah menjadi murung.
“membencimu? Kenapa?” Tanya Rei penasaran.
“ayahku… mengambil semua harta keluargaku. Keluargaku secara turun temurun adalah orang-orang yang berhasil dan sukses. keluargaku juga memiliki sebuah gudang yang penuh dengan harta yang menjadi harta keluargaku. tapi ayahku berbeda dengan kerabatku yang bisnisnya selalu sukses. Bisnisnya tidak pernah lancar dan beberapa kali perusahaannya bangkrut. Tapi demi menjaga nama baik keluarga, semua kerabat ikut membantu bisnis ayahku. Saat itu bisnisnya perlahan-lahan mulai lancar, tapi karena kecerobohan salah satu karyawan ayahku. Bisnisnya kembali menurun, ayahku mulai stress. Dia mengurung diri di dalam kamar beberapa hari, ibuku sangat khawatir dengan kondisi ayahku saat itu dan akhirnya seharian ia menemani ayahku. Paginya setelah semua kerabatku pergi bekerja, ayahku keluar dari kamarnya dan menuju gudang harta. Ia mengambil semua harta itu tanpa menyisakan sepeserpun. Malamnya, kerabatku baru saja pulang pesta syukuran atas suksesnya proyek yang dibuat oleh pamanku. Mereka semua mendatangi kamar ayahku untuk mengajak ayahku merayakannya bersama. Begitu pintu dibuka, didalam kamar mereka tidak menemukan ayah dan ibuku. Yang mereka temukan hanya aku dengan mulut dan tangan terikat sedang menangis di lemari pakaian ayahku. Melihat keadaanku, semua kerabatku langsung berlari menuju gudang harta. disana sudah tidak ada harta yang tersisa, semua kerabatku otomatis ngamuk kecuali kakekku yang masih berusaha tenang. Semua kerabatku langsung memanggil banyak polisi untuk mencari ayah dan ibuku. Tapi sayangnya orangtuaku sudah pergi sangat jauh. Dan aku ditinggal sendiri oleh orangtuaku, kerabatku juga sama sekali tidak peduli dangan keadaanku. Hanya kakek yang mau mengurusku. Setelah itu semua kerabatku keluar dari rumah dan memulai kehidupan sendiri.” Rei bisa melihat gadis itu menitikkan air matanya walaupun hanya sekilas.
“kejam sekali orangtuamu. Tapi umurmu kan waktu itu masih 2 tahun, gimana kamu bisa tau kejadian waktu itu?”
“hehehe… sebulan yang lalu aku kebetulan bertemu tanteku dikantor kakek. Sebelumnya aku gak tahu kalo itu tanteku, makanya aku memberi salam kepada tanteku sesopan mungkin. Melihat itu kakekku langsung ngasih tau kalo itu tanteku. Aku kaget dan tentu saja tanteku juga kaget saat melihatku. Reflek ia langsung marah-marah sama aku trus menceritakan semua tentang kejadian waktu itu. aku kaget denger itu, aku nangis loh waktu itu. selama ini yang kutau dari kakekku kalo orangtuaku pergi jauh dan mungkin tidak akan kembali. Aku dititipkan ke kakekku karena mereka takut tidak bisa mengurusku dengan baik, tapi ternyata itu semua bohong. Walaupun aku ingin marah sama kakek, tapi tetap saja aku gak bisa karena kakek yang telah mengurusku hingga aku sebesar ini.”
“kakekmu pasti baik sekali. O ya ngomong-ngomong, siapa namamu?” Tanya Rei tiba-tiba. Dan saat itu juga pelayan Gadis itu memanggilnya.
“Nona! Nona MARIE! Nona dipanggil kakek nona!”
“Iya! Yap, namaku Marie! Panggil Rie saja. sampai nanti!” katanya sambil melompat turun.
“NAMAKU REI! jangan lupa!” teriak Rei dari atas.
“Oke, Rei! akan kuingat.” Ia pun berlalu dari tempat Rei.
“sekarang aku juga harus kembali atau bisa kena damprat ibu.” Celoteh Rei.
Rei melompat ke pohon dekat kamarnya. begitu masuk kamar, Rei tidak percaya barang-barangnya sudah tertata rapi dan bersih.
“kok bisa? Padahal aku belum…”
“belum merapikannya?” Tanya ibu yang ternyata sejak awal sudah berada disana.
“I, ibu… a, aku lupa buat….”
“kemana saja kamu tadi? Kamu boleh pergi setelah kamar kamu bersih dan rapi! Tapi kamu justru meninggalkannya dalam keadaan sangat berantakan Rei!”
“maaf bu, a, aku…” Rei kesulitan untuk menjelaskan yang sebenarnya.
“sudahlah, sekarang kamu cuci tangan dan makan. setelah itu kamu langsung ke kamar, kamu dihukum hari ini.”
“ibu…”
“ayo segera pergi ke bawah.” Perintah ibu cepat.
“haaah… baiklah…” Rei hanya bisa menurut jika ibunya sudah seperti itu.
Di ruang makan…
“ aku kenyang, aku mau langsung ke kamar aja.” Kata Rei sambil berlalu pergi.
“tunggu Rei, kamu baru makan sedikit. Nanti kamu sakit, Rei… Rei…” tanpa mempedulikan omongan ibunya Rei pergi kekamarnya. Ia mengunci pintu dan dengan segera ia memanjat pohon dan melompati tembok pembatasnya.
“moga aja si Rie tiba-tiba lewat dekat sini.” Bisik Rei pada diri sendiri. dan si Rie benar-benar good timing, ia sedang berjalan menuju gudang.
“Rie!!” teriak Rei. mendengar namanya dipanggil, Rie langsung nengok keatas. Begitu melihat Rei, Rie langsung melambaikan tangannya.
“Rei! ngapain kamu disitu! Mau maling ya?!” canda Rie.
“ngaco! Aku lagi mau kabur dari rumah! aku mau main sama kamu, boleh gak?!”
“tentu aja boleh, ya udah cepetan turun!” Rei langsung melompat dari tembok pembatas itu.
“kamu lagi ngapain?” Tanya Rei begitu pendaratan sukses dilakukan.
“aku mau ke gudang. Mau ikut?” Tanya Rie balik bertanya.
“aku ikut.” Jawab Rei mantap. “ ngomong-ngomong kamu mau ngapain digudang?”
“kalo lagi bosen aku sering kesini. Kalo disini aku bisa bebas melakukan apa saja yang aku mau, lagipula di dalam gudang luas banget loh.” kata Rie sambil membuka pintu gudang.
“waaah… gudang aja segede ini…. emang keren kakekmu itu.” puji Rei.
“hahaha… biasa aja kali. Oh ya, biasanya aku disini latihan ini.” kaya Rie sambil menyalakan tv yang dibawa Rie kedalam gudang.
“inikan….. ka, kamu belajar dance?” Tanya Rei pelan-pelan begitu melihat video yang sering ditonton Rie.
“Heeh, makanya aku minta kamu ngajarin aku gerakan yang tadi. Keren banget loh!” puji Rie.
“nggg…. Eh, emang sejak kapan kamu belajar dance? Kakekmu tau? Kalo emang kamu dari keluarga bangsawan seharusnya kamu gak dibolehin belajar kaya beginian kan?”
“kok kamu tau aku dari keluarga bangsawan? Kayanya aku gak bilang kalo aku dari keluarga bangsawan.” Tanya Rie curiga.
“emang iya, aku Cuma ngeduga aja pas denger cerita kamu. Lagipula kalau bukan dari keluarga bangsawan ayah kamu gak mungkin se-stress itu.” jelas Rei.
“waah… keren kamu bisa tahu. Yah… seperti yang kamu tahu itu, sebenarnya aku sempat dilarang kakekku saat aku bilang ingin belajar dancer. Tapi aku bilang ke kakekku bahwa aku ingin menentukan jalan hidupku sendiri, aku tidak ingin tertekan dan aku juga tidak ingin menyesal di kemudian hari. Aku ingin menjadi diriku sendiri, bukan diri yang hanya bisa mendengar perintah dari orang lain.dan akhirnya kakekku setuju dengan keputusanku.” Mendengar itu, Rei mulai kagum dengan jalan hidup Rie.
“Ta, tapi… kamu gak takut kalau semua kerabatmu menentangmu? Belum apa kata orang-orang melihat anak dari keluarga bangsawan jadi dancer jalanan.”
“buat apa takut kalau ingin menjadi diri kita sendiri. Lagian aku bukannya mau jadi dancer jalanan kok, aku akan mengikuti perandingan dancer se-nasional yang diadakan besar-besaran di Jakarta pusat. Bagi juaranya akan mendapatkan uang sebesar 10 milyar dan pergi menginap selama seminggu di amerika, tentu saja biaya hotel dan lain-lain ditanggung oleh mereka. Gimana? Serukan? Kamu mau ikutan kan?”
“tunggu, tunggu…. Emang siapa orang yang mau keluar uang sebanyak itu untuk pertandingan dancer? Lagian mana mungkin ada yang mau keluar uang sampai 10 milyar, 10 milyar kan banyak banget. Itu pasti Cuma tipuan biar banyak orang yang ikut perlombaan itu.”
“haaah… begini, ada seorang pengusaha yang menjadi pemilik perusahaan terbesar di amerika. Dengar-dengar pengusaha itu menyukai dancer, jadi ia rela keluar uang hanya untuk lomba dancer. Dan kebetulan ia sedang berlibur ke Indonesia beberapa hari. Dan! kebetulan juga ia dengar ada yang ingin mengadakan pertandingan dancer di Jakarta, awalnya sih hanya pertandingan kecil-kecilan, tapi langsung berubah jadi senasional karena ia bekerja sama dengan pengusaha itu. Dan! Dengar-dengar si pengusaha dari amerika itu penasaran dengan dancer yang ada di Indonesia, makanya ia yang menjadi jurinya langsung. Begitulah ceritanya, cowok banyak nanya…” kata Rie mengejek, ia kesal dengan Rei yang terus-menerus bertanya.
“oooh…. Tapi itu baru dengar-dengar ajakan? Bagaimana kalau bohong?” Tanya Rei lagi. Rie sudah tidak tahan lagi, ia memukul meja yang ada di depan Rei.
“dengar Rei! itu gak mungkin bohong karena aku sudah bertemu dengan orangnya langsung!”
“bertemu langsung?”
“ya! Dia teman kakekku! Waktu aku bilang ingin belajar dancer ke kakekku, ia juga sedang berada disana! Ia juga yang memberitahuku soal perlombaan itu!”
“kenapa kamu gak bilang sejak awal?” Tanya Rei yang kesekian kalinya.
“karena aku gak mau dianggap curang karena ia teman baik kakekku! Aduuuh… bisa gak sih berhenti bertanya dan dengarkan omonganku baik-baik?”
“iya, maafkan aku…”
“kamu kenapa sih? Kamu takut kalah dipertandingan itu? atau… ada alasan lain?” Rei diam beberapa saat.
“aku… takut mengecawakan orangtuaku…” kata Rei akhirnya.
“hanya karena itu? kamu sebenarnya menyukai dance kan? Dan hanya karena takut mengecewakan orangtuamu kamu lari dari semua itu dan mengatakan yang sebaliknya pada orangtuamu? Atau bahkan kau tidak bicara sama sekali dengan orangtuamu?”
“aku tidak lari. Aku sangat benci melakukan itu.” kata Rei tegas.
“kalau begitu katakan yang sebenarnya dan buktikan! Aku yakin kamu pasti bisa jadi juara diperlombaan itu.” kata Rie meyakinkan.
“baiklah. Terimakasih Rie.”
“bagus! Kalau begitu ayo kita mulai latihannya!” kata Rie semangat. mereka berdua pun berlatih dengan serius. Rei sendiri sudah bertekad mengatakan hal yang sebenarnya kepada orangtuanya saat ayahnya pulang kerumah.
Hari sabtu…
Ayah Rei akhirnya pulang. Dan saat itu juga Rei langsung mengatakan hal yang sebenarnya. Ibu Rei sempat tidak percaya, tapi ayah Rei setuju dengan keputusan Rei. ibu Rei mau tidak mau setuju juga dengan keputusan Rei. rei senang sekali kedua orangtuanya mau mengerti, walaupun ayahnya mengajukan syarat untuk tidak meninggalkan sekolahnya itu dan berteman baik dengan teman-teman barunya.
“terus… kamu sudah mendaftar?” Tanya ayah Rei sambil menyeruput kopi panas buatan istri kesayangannya.
“Rie yang mendaftarkan.” Jawab Rei singkat.
“ngomong-ngomong… Rie itu pacarmu ya?” Tanya ayah Rei jahil. Tentu saja muka Rei langsung berubah jadi merah.
“ayah! Jangan ngomong sembarangan! Rie cuma teman doang kok!”
“hahaha… iya, iya…”
Beberapa hari kemudian…
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. semua teman-teman baru Rei datang mendukungnya, ternyata Rei berhasil berteman baik dengan teman-teman barunya. Walaupun Rei sering diejek karena bahasanya yang lumayan baku. Itu juga karena Rei gak biasa ngomong gua-lu karena ia baru pertama kali tinggal di Indonesia. Begitu juga Rie, karena anak dari keluarga bangsawan ia harus selalu menjaga setiap omongannya.

Seperti dugaan Rei, kalau perlombaan itu bakalan banyak yang mendaftar, dan sangat ramai dengan penonton. Dengan begini saingan Rei dan Rie jadi berkali-kali lipat, tapi mereka tidak akan menyerah begitu saja karena mereka sudah berlatih keras setiap hari.
Gak lama, akhirnya perlombaan dimulai juga. Rei dan Rie berhadapan dengan berbagai macam orang, tapi mereka dapat menyelesaikannya dengan baik. Seiring berjalannya waktu, Reid an Rie sudah menjadi lawan tertangguh, mereka sulit dikalahkan. Sampai waktu mereka berhadapanpun tiba.
“ternyata kau tangguh juga ya.” Puji Rie saat berhadapan dengan Rei diatas panggung.
“untuk ukuran anak cewek kau sangat kuat.” Rei balas memuji Rie, “tapi tentu saja aku tidak akan mengalah darimu.”
“itu yang kuharapkan.” Setelah kata terakhir dari Rie, peluit tanda pertandingan dimulai bunyi. Mereka langsung menunjukkan aksi mereka masing-masing, itu menjadi pertarungan sengit diantara keduanya. Para juripun kesulitan menentukan pemenang nya diantara mereka berdua. Tiba-tiba saja teman kakek Rie itu berdiri dan menunjuk mereka berdua sambil mengatakan, “kalian berdua adalah pemenangnya. Selamat ya, kalian berdua sangat hebat! Saya kagum.”
Semua teman-teman Rei langsung bersorak, begitu juga kedua orangtua Rei. diam-diam kerabat Rie yang ternyata datang kesana untuk melihat Rie ikut bersorak. Rei dan Rie yang sempat tidak percaya langsung melompat bersamaan dengan gembira, mereka melakukan dance yang ceria bersama teman-teman dan keluarga. Itu akan menjadi hari yang tidak terlupakan karena Rei berhasil mencapai cita-citanya, Rie pun juga berhasil membuktikan kepada seluruh kerabatnya bahwa ia juga bisa jadi yang terbaik.

Beberapa minggu setelah itu. lagi-lagi Rei sudah harus pindah rumah, tentu saja Rei harus berpisah lagi dengan teman-temannya. Ia juga tidak lupa untuk menyimpan foto-foto kenangan ia selama berada disana ke dalam kotak foto. Dan pertama kali dalam sejarah ia membingkai salah satu foto kenangannya, yaitu foto ia bersama Rie yang sedang memegang piala.
Setiap kali melihat foto itu, Rei selalu tersenyum senang. Ia tidak akan pernah melupakannya sedikitpun hingga ia kembali bertemu dengan Rie.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s